Rabu, 18 Januari 2012

Cinta Sejati dan Teman Sejati

Cinta Sejati dan Teman Sejati


Kenapa kita menutup mata ketika kita tidur, ketika kita menangis, ketika kita membayangkan, ketika kita berciuman?
Ini karena hal terindah di dunia TIDAK TERLIHAT.

Kita semua agak aneh... dan hidup sendiri juga agak aneh...
Dan ketika kita menemukan seseorang yang keunikannya SEJALAN dengan kita.
Kita bergabung dengannya dan jatuh ke dalam suatu keanehan serupa yang dinamakan CINTA.

Ada hal - hal yang tidak ingin kita lepaskan...
Orang - orang yang tidak ingin kita tinggalkan...
Tapi ingatlah... melepaskan BUKAN akhir dari dunia, melainkan awal suatu kehidupan baru.
Kebahagiaan ada untuk mereka yang menangis, mereka yang tersakiti, mereka yang telah mencari, dan mereka yang telah mencoba.
Karena MEREKALAH yang bisa menghargai betapa pentingnya orang yang telah menyentuh kehidupan mereka.

CINTA yang AGUNG adalah...
Adalah ketika kamu menitikkan air mata dan MASIH peduli terhadapnya..
Adalah ketika dia tidak mempedulikanmu dan kamu MASIH menunggunya dengan setia.
Adalah ketika dia mulai mencintai orang lain dan kamu MASIH bisa tersenyum sambil berkata 'Aku turut berbahagia untukmu'

Apabila cinta tidak berhasil... BEBASKAN dirimu...
Biarkan hatimu kembali melebarkan sayapnya dan terbang ke alam bebas LAGI...
Ingatlah...bahwa kamu mungkin menemukan cinta dan kehilangannya...
Tapi, ketika cinta itu mati... kamu TIDAK perlu mati bersamanya...
Orang terkuat BUKAN mereka yang selalu menang, MELAINKAN mereka yang tetap tegar ketika mereka jatuh.
Entah bagaimana dalam perjalanan kehidupan, kamu belajar tentang dirimu sendiri dan menyadari bahwa penyesalan tidak seharusnya ada.
HANYALAH penghargaan abadi atas pilihan - pilihan kehidupan yang telah kau buat.

TEMAN SEJATI...
Mengerti ketika kamu berkata 'Aku lupa'
Menunggu selamanya ketika kamu berkata 'Tunggu sebentar'
Tetap tinggal ketika kamu berkata 'Tinggalkan aku sendiri'
Membuka pintu meski kamu BELUM mengetuk dan berkata 'Bolehkah saya masuk?'

MENCINTAI...
BUKANlah bagaimana kamu melupakan, melainkan bagaimana kamu memaafkan.
MEMAAFKAN...
BUKANlah bagaimana kamu mendengarkan, melainkan bagaimana kamu mengerti.
MENGERTI...
BUKANlah apa yang kamu lihat, melainkan apa yang kamu rasakan.

Lebih berbahaya mencucurkan air mata dalam hati, dibandingkan menangis tersedu – sedu.
Air mata yang keluar dapat dihapus, sementara air mata yang tersembunyi menggoreskan luka yang tidak akan pernah hilang.

Dalam urusan cinta, kita SANGAT JARANG menang.
Tapi ketika CINTA itu TULUS, meskipun kalah, kamu TETAP MENANG hanya karena kamu berbahagia dapat mencintai seseorang LEBIH dari kamu mencintai dirimu sendiri.

Akan tiba saatnya dimana kamu harus berhenti mencintai seseorang. BUKAN karena orang itu berhenti mencintai kita MELAINKAN karena kita menyadari bahwa orang itu akan lebih berbahagia apabila kita melepaskannya.

Apabila kamu benar - benar mencintai seseorang, jangan lepaskan dia.
Jangan percaya bahwa melepaskan SELALU berarti kamu benar - benar mencintai MELAINKAN... BERJUANGLAH demi cintamu.
Itulah CINTA SEJATI

Lebih baik menunggu orang yang kamu inginkan DARIPADA berjalan bersama orang 'yang tersedia'.
Lebih baik menunggu orang yang kamu cintai DARIPADA orang yang berada di sekelilingmu.
Lebih baik menunggu orang yang tepat kerena hidup ini terlalu singkat untuk dibuang dengan hanya dengan 'seseorang'.

Kadang kala, orang yang kamu cintai adalah orang yang PALING menyakiti hatimu dan kadang kala, teman yang membawamu ke dalam pelukannya dan menangis bersamamu adalah cinta yang tidak kamu sadari.
And now find U'r Love ... ... ...

Sumber: Unknown
Timestamp: 2008-03-28 09:20:19
Views: 40093

Kisah Mengagumkan Kehidupan Lebah Madu

Kisah Mengagumkan Kehidupan Lebah Madu

Seseorang yang meneliti segala penjuru alam semesta - dari galaksi raksasa di ruang angkasa hingga mahluk hidup di alam, dan dari tubuhnya sendiri hingga sel kasat mata – akan mendapati suatu perencanaan sempurna dalam tatanan maupun rancangannya. Setiap jengkal alam semesta dipenuhi oleh bukti yang nyata dan pasti: FAKTA PENCIPTAAN.

Beragam pekerjaan yang dilakukan para hewan dan perilaku yang mereka perlihatkan, hanya mungkin terjadi karena adanya hikmah, ilmu, pengalaman dan keahlian yang luar biasa. Pengamatan sederhana sebenarnya sudah cukup untuk memahami bahwa sifat-sifat unggul ini bukanlah berasal dari hewan itu sendiri. Indera penunjuk arah sempurna pada burung yang bermigrasi ribuan kilometer, kemegahan arsitektur jaring laba-laba, pembagian kerja dan kerjasama luar biasa dalam koloni semut, serta rancangan geometris menakjubkan pada sarang lebah madu adalah sedikit dari beragam contoh lain yang tak terhitung jumlahnya…

Allah membentangkan tanda-tanda keberadaan dan kekuasaan-Nya melalui contoh-contoh ini. Dia memperlihatkan ilmu, hikmah dan kesempurnaan-Nya yang tak terbatas melalui makhluk hidup dan tak hidup ciptaan-Nya.

Beragam organisme besar dan kecil, dari burung hingga reptil, dan dari ikan paus hingga serangga, memperlihatkan perilaku yang sungguh menakjubkan. Bahkan manusia, yang menganggap dirinya lebih bijak, berilmu dan cerdas, ternyata tak mampu menyaingi keahlian mereka.

Kisah lebah madu, yang akan kita simak berikut ini, hanyalah satu di antara berbagai mahluk hidup dengan perilaku mereka yang membuat manusia berdecak kagum.

Lebah adalah serangga mungil yang tidak mampu berpikir. Akan tetapi mereka mampu menyelesaikan sejumlah pekerjaan besar yang tak terbayangkan sebelumnya. Setiap pekerjaan tersebut membutuhkan perhitungan dan perencanaan khusus. Sungguh mengagumkan bahwa kecerdasan dan keahlian yang demikian ini ada pada setiap ekor lebah. Namun, yang lebih hebat lagi adalah ribuan lebah bekerjasama secara teratur dan terencana dalam rangka mencapai satu tujuan yang sama, dan mereka melaksanakan bagian pekerjaan mereka masing-masing secara penuh dan sungguh-sungguh tanpa kesalahan sedikitpun.

Kesulitan terbesar dalam pengorganisasian sekelompok orang untuk bekerja secara bersama adalah penyiapan jadwal kerja serta pembagian tugas dan tanggung jawab. Dalam sebuah pabrik, misalnya, terdapat struktur jabatan yang rapi di mana para pekerja melapor pada mandor, para mandor melapor pada insinyur, para insinyur melapor pada manajer pelaksana dan para manajer pelaksana melapor pada manajer umum. Pengoperasian pabrik yang efisien memerlukan banyak tenaga kerja dan dana; pembuatan rencana jangka panjang dan pendek; serta pengumpulan data statistik. Produksi dilakukan berdasarkan rencana produksi yang telah disiapkan sebelumnya, dan pengawasan kualitas dilakukan di setiap tahapannya. Setiap insinyur, manajer dan manajer pelaksana memperoleh pendidikan dan pelatihan khusus dalam jangka waktu tertentu sebelum ditempatkan pada posisi mereka masing-masing.

Akan tetapi, setelah segala persyaratan ini dipenuhi dan sistem organisasinya telah terbentuk, hanya beberapa ratus tenaga kerja saja yang mampu bekerja bersama secara harmonis.

Demikianlah, pembentukan kerja sama di antara beberapa ratus manusia cerdas dengan gagasan mereka masing-masing memerlukan perencanaan yang rumit dan biaya mahal. Namun, puluhan ribu lebah mampu membangun sistem organisasi sempurna yang tak tertandingi oleh masyarakat manusia.

Tidak seperti manusia, lebah tidak mendapatkan pendidikan atau pelatihan apapun. Begitu lebah lahir, ia dengan segera melaksanakan tugas yang dibebankan padanya.

Karyawan pabrik bekerja untuk mendapatkan gaji pada akhir bulan. Sementara itu, seekor lebah tidak memperoleh keuntungan pribadi dari pekerjaan yang ia lakukan. Pekerjaan yang dilakukan karyawan pabrik, baik sebagai pekerja biasa ataupun manajer pelaksana, terbatas hanya pada jam kerja tertentu dan mereka berhak mendapatkan masa liburan. Sebaliknya, lebah bekerja sepanjang hidup, tanpa istirahat, demi kepentingan dan kebaikan sesamanya.

Tidak diragukan lagi, Allah, Dia-lah yang menjadikan masing-masing dari puluhan ribu lebah tersebut bekerja harmonis tanpa henti, layaknya roda-roda gigi dalam sebuah mesin. Dalam sebuah ayat, Allah mengingatkan manusia tentang segala nikmat yang Allah berikan kepada manusia melalui hewan ciptaan-Nya: “Dan Kami tundukkan binatang–binatang itu untuk mereka; maka sebahagiannya menjadi tunggangan mereka dan sebahagiannya mereka makan. Dan mereka memperoleh padanya manfaat–manfaat dan minuman. Maka mengapakah mereka tidak bersyukur?” (QS. Yaasiin, 36:72-73)

Rata-rata, sekitar 60-70 ribu lebah hidup dalam sebuah sarang. Walaupun populasi yang demikian padat, lebah mampu melakukan pekerjaannya secara terencana dan teratur rapi.

Suatu koloni lebah umumnya terdiri dari lebah pekerja, pejantan dan ratu. Lebah pekerja boleh dikata mengerjakan seluruh tugas dalam sarang. Sejak saat dilahirkan, para lebah pekerja langsung mulai bekerja, dan selama hidup, mereka melakukan berbagai tugas yang berganti-ganti sesuai dengan proses perkembangan yang terjadi dalam tubuh mereka. Mereka menghabiskan tiga hari pertama dalam hidup mereka dengan membersihkan sarang.

Kebersihan sarang sangatlah penting bagi kesehatan lebah dan larva dalam koloni. Lebah pekerja membuang seluruh bahan berlebih yang ada dalam sarang. Saat bertemu serangga penyusup yang tak mampu mereka keluarkan dari sarang, mereka pertama-tama membunuhnya. Kemudian mereka membungkusnya dengan cara menyerupai pembalseman mayat. Yang menarik di sini adalah dalam pengawetan ini lebah menggunakan bahan khusus yang disebut “propolis”. Propolis adalah suatu bahan istimewa karena sifatnya yang anti bakteri sehingga sangat baik digunakan sebagai pengawet.

Bagaimana lebah tahu bahan ini adalah yang terbaik sebagai pengawet, dan bagaimana mereka mampu menghasilkannya dalam tubuh mereka ?

Propolis adalah bahan yang hanya dapat dihasilkan dalam kondisi laboratorium dengan teknologi dan tingkat pengetahuan ilmu kimia yang cukup tinggi. Nyata bahwa lebah sama sekali tidak mempunyai pengetahuan tentang ini, apalagi laboratorium dalam tubuhnya.
Lebih jauh lagi, lebah pekerja bertanggung jawab memeriksa sel–sel yang akan digunakan sang ratu untuk meletakkan telurnya. Selain itu, lebah pekerja juga bertugas mengumpulkan kotoran yang ada dalam sel-sel yang telah ditinggalkan oleh para larva yang telah lahir, serta membersihkan sel penyimpan makanan. Lebah–lebah tersebut juga mengatur kelembaban dan temperatur di dalam sarang, jika dibutuhkan, dengan kipasan angin melalui kepakan sayap mereka pada pintu masuk sarang.

Penting untuk diketahui bahwa seluruh tugas yang membutuhkan spesialisasi ini dilakukan oleh lebah pekerja berumur 3 hari yang bertanggung jawab dalam kebersihan.

Lebah pekerja menghabiskan waktunya setelah 3 hari pertama tersebut dengan merawat para larva. Saat mereka menjadi lebih dewasa, beberapa kelenjar sekresi dalam tubuh mereka mulai berfungsi; ini memungkinkan mereka untuk merawat larva. Seluruh tugas yang berhubungan dengan perawatan larva ini dikerjakan oleh lebah pekerja yamg berumur 3 sampai 10 hari. Mereka memberi makan sebagian larva dengan royal jelly, dan sebagian lagi dengan campuran madu-serbuk sari. Mahluk hidup yang baru lahir ini telah mengetahui tugas yang menjadi tanggung jawabnya dan memiliki pengetahuan untuk mengerjakannya dengan cara yang sangat profesional.

Sang lebah berganti tugas saat ia tumbuh lebih dewasa. Ketika mencapai hari ke 10 dari masa hidupnya, kelenjar penghasil lilin dalam perut lebah pekerja mendadak telah matang sehingga ia mampu menghasilkan lilin. Pada saat itulah seekor lebah menjadi pekerja pembangun sel-sel penyimpan madu dengan menggunakan lilin.

Fenomena ini memunculkan banyak pertanyaan. Bagaimana mungkin seekor makhluk hidup yang baru saja lahir, dan, lebih dari itu, yang tidak memiliki kecerdasan dan pengetahuan ini benar-benar memahami seluruh tugas yang menjadi tanggung jawabnya? Bagaimana tubuh seekor hewan tiba–tiba dapat teradaptasikan untuk merawat dan memberi makan larva dengan berfungsinya beberapa kelenjar sekresi, padahal sesaat sebelumnya ia terprogram untuk melakukan tugas kebersihan? Bagaimana seekor lebah, yang 4 atau 5 hari sebelumnya adalah larva, dapat berpikir dan merencanakan segala tugasnya tersebut? Bagaimana tubuhnya dapat dengan tiba–tiba menghasilkan lilin dan berubah menjadi pekerja konstruksi? Padahal konstruksi bangunan ini didasarkan pada penghitungan rumit dan sangat tepat, yang tak akan mampu dilakukan oleh manusia sekalipun.

Tidak ada keraguan, tidaklah mungkin lebah itu sendiri yang melakukan perhitungan berdasarkan kecerdasannya sendiri. Begitulah, ini adalah bukti nyata bahwa setiap fase dalam hidupnya, lebah tunduk pada hikmah dan kekuasaan Penciptanya. Lebah menjalani setiap saat dalam hidupnya dengan ilham yang diberikan oleh Allah, Pencipta Yang Mahaperkasa.

sumber: http://harunyahya.com/indo/artikel/043.htm

Aku Untukmu Sayang

Aku Untukmu Sayang

Aku masih disini
Terpaku, termenung, terdiam
Dalam kelam dan gelapnya malam
Melayang angan dan fikiran
Entah,,menuju kemana arahnya

Akupun masih disini..
menelusuri detik demi detik
Waktu yang berjalan mengukir kenangan
Senyum, tawa, sedih, dan gembira
Semua menyatu dalam perasaan

Aku masih disini
Menanti…berharap..

Aku masih tetap disini
Memeluk bayangmu dalam kegelapan
Mendekap Kasihmu dalam hening malam

Aku,,untukmu sayang

Kumpulan Artikel Cinta Pertama

Cinta Pertama

Cinta Pertama adalah karya penulis Rusia yang pertama saya baca. Dan saya sangat sangat menyukainya. Kata-kata yang ditorehkan Turgenev sangat indah, sehingga membuat saya sering lupa bernafas. Rangkaian katanya benar-benar terjalin indah.

Sedikit terganggu dengan banyaknya typo di edisi ini tapi itu tidak menghentikan saya untuk terus membacanya. Kisah cinta pertama seorang pemuda bernama Vladimir sudah terlalu memikatku.

Dengan tersirat Turgenev menceritakan kehidupan dari tokoh utama bernama Vladimir. Permasalahan dengan Ayahnya, perasaan “sendiri & terasing” Vladimir yang digambarkan melalui kata-kata indah yang sebenarnya membuat saya yang membacanya merasa kasihan dengan Vladimir.

Saat Vladimir mengenal cinta, ternyata semua tak berjalan mulus. Melalui Cinta Pertamanya Vladimir mengenal cinta lengkap dengan paketnya; pengorbanan, kecemburuan, kasih sayang, persaingan, kebimbangan. Apakah Vladimir menyesali karena mengecap Cinta Pertama? Karena perasaan cinta itu telah membuatnya “melihat sesuatu”, “merasakan sesuatu”?

Pepatah mengatakan “Cinta pertama tidak akan mati” tapi kau akan seperti orang mati apabila tidak merasakan cinta…

Sumber: http://rezaecha.wordpress.com/2011/05/31/cinta-pertama/




Dengan mengusung tema #SavePustakaJaya, buku yang saya baca adalah Cinta Pertama karya penulis dari Rusia, Ivan Turgenev. Awal dapet buku ini, weh tipis kaleee, makanya disebut novelet, hehe. Sebenarnya berharap banyak sama buku ini, mengacu pada Wuthering Heights yang sama-sama klasik, saya berharap sebagus buku yang suram itu, yah, memang buku ini suram tapi kurang.

Jujur saja saya bingung sama isi ceritanya, dikarenakan terjemahannya yang sulit dicerna. Saya maklum kalau ini terbitan lawas, cetakan pertama saja tahun 1972, lah saya belum lahir itu. Pertama kali terbit tahun 1860, diterjemahkan oleh Rusman Sutiasumarga ke bahasa Indonesia memalui bahasa Belanda. Cinta Pertama juga pernah diterjemahkan ke bahasa Sunda, dimuat bersambung dalam Majalah Sunda tahun 1965 (dengan judul Baleg Tampele) Tapi buku yang saya beli ini terbitan tahun 2009 dan cetakan keempat, apakah tidak bisa diterjemahkan ulang sebelum dicetak lagi? Mungkin buat beberapa orang tidak masalah, tapi saya tidak dapat menikmatinya, tidak mendapatkan ‘feel’ ceritanya, alhasil saya berulang-ulang mencernanya sampai capek.

Inti yang saya dapat adalah cerita ini bersetting di Moskow pada tahun 1833, ada seorang laki-laki berusia 16 tahun, Vladimir Petrovitsy, yang jatuh cinta kepada tetangganya yang cantik jelita, perempuan itu lebih tua darinya, berusia 21 tahun, putri Zinaida Alexandrovna. Walaupun berdarah bangsawan, keluarga Zazekina termasuk miskin, rumah yang disewanya pun hampir roboh. Namun berkad kecantikannya banyak pemuda lain yang mengejar-ngejar demi mendapatkan hatinya. Vladimir pun memberanikan diri bertemu dengan Zinaida. Gadis yang terlihat angkuh itu tahu kalau pemuda yang malu-malu datang itu suka padanya, diapun memanfaatkannya sebagai pengawal. Apakah Vladimir akan mendapatkan cinta pertama yang tak terlupakan?

Selain terjemahannya, kisah ceritanya pun tidak banyak konflik, saya merasa Zinaida itu lebih menyukai ayah Vladimir (ini pemahaman saya waktu membacanya loh), Vladimir yang tidak dekat dengan ayahnya dan dia itu lembek, tidak gentle, tidak bisa membuat saya jatuh cinta pada karakternya. Tapi saya suka covernya, mencerminkan isi cerita. Ada perkataan ayah Vladimir yang saya suka walaupun saya bingung akan artinya:

“Hati-hatilah memelihara kecintaan seorang perempuan, hati-hatilah menjaga kebahagiaan yang beracun.”

2 sayap untuk kebingunggan saya.

NB:

Tentang Penulis
Ivan Turgenev adalah pengarang Rusia pertama yang memberi gambaran gamblang tentang keadaan Rusia pada abad ke-19. Penulis prosa Rusia ini dilahirkan pada tanggal 28 Oktober 1818 di Oryol, rusia, sebagai anak seorang tuan tanah. Ia belajar di universitas Petersburg, kemudian di Berlin (1838-1844), tempat ia menetap seterusnya. Karyanya lebih mudah dipahami daripada Tolstoy dan Dostoyevsky. Pada mulanya ia menulis sejak 1834. Namun ia menjadi terkenal baru setelah menulis novelet Chorji dan Kalinstj tahun (1847) yang melukiskan dua tipe petani dengan segala kebebasan individunya. A Sportsman’s Sketches (1852), merupakan dakwaan atas perbudakan. Kemudian terbit buku-buku romannya yang lain, berjudul Rudin (1855), A Nest of Gentlefolk (1858), On The Eve (1860), Father and Son (1861) yang pernah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Noer St. Iskandar dengan judul Peredaran Zaman, melukiskan pertentangan antara dua generasi. Turgenev meninggal tahun 1883 di Bougival dekat Paris, dan setelah ia meninggal barulah bukunya yng berjudul Sajak-sajak dalam Prosa terbit, berisi tinjauan tentang rakyat Rusia yang ditulis dalam gaya yang indah serta sempurna.

Sulis
Blogger Buku Indonesia

Sumber: http://kubikelromance.blogspot.com/2011/11/cinta-pertama.html#ixzz1cWsjUR9b




Cinta pertama itu abadi, walau tak selalu berlanjut ke jenjang pernikahan namun kenangannya tak pernah terhapus dalam ingatan kita yang pendek ini. Umumnya tiap orang selalu mengenang bagaimana pertama kali ia jatuh cinta, dari mulai cinta pertama yang konyol, yang mengharu biru, hingga cinta pertama yang abadi. Apapun dan bagaimanapun akhir dari kisah cinta pertama biasanya selalu menarik untuk dikenang baik sekedar untuk disimpan dalam hati, dicurhatkan kepada teman, ditulis di blog-blog pribadi, atau tak jarang menjadi sumber inspirasi para penulis2 novel roman.

Ivan Tugenev (1818-1883), salah satu penulis besar dalam sejarah kesusasteraan Rusia tak mau ketinggalan untuk menuliskan roman tentang kisah cinta pertama. Namun ini bukan kisah cinta pertamanya, melainkan cinta pertama tokoh khayalannya, Vladimir Petrovitsy. Novel ini atau lebih tepatnya disebut novelette ini diawali dengan adegan dalam sebuah pesta dimana Vladimir berserta kawan-kawannya duduk bersama untuk saling menceritakan kisah cinta pertama mereka.

Dari narasi Vladimir Pertovitsy inilah mengalir bagaimana dirinya mengalami cinta pertamanya disaat usianya baru 16 tahun. Dikisahkan Vladimir jatuh cinta pada tetangganya, Zinaida Zasyekina yang telah berusia 21 tahun. Zinaida ini tinggal bersama ibunya yang sudah tua, puteri Zaskeyina . Meskipun memiliki garis keturunan bangsawan, puteri Zasyekina dan anak gadisnya itu hidup dalam kemiskinan dan tinggal si sebelah rumah Valdimir.

Karena kecantikannya, hampir setiap hari Zinaida dikelilingi oleh para pria-pria yang berkumpul di rumahnya, mereka terdiri berbagai profesi, ada dokter, tentara, penyair, dll. Vladimir yang saat itu merupakan pria termuda juga tak ketinggalan untuk ikut ambil bagian dalam setiap pertemuan itu. Zinaida menggunakan kesempatan itu untuk bermain dan berolok-olok bersama para pria yang memujanya. Walaupun kadang permainan yang digagas oleh Zianida itu melecehkan mereka, para pria itu tetap setia mengikutinya sambil berharap mendapat cinta dari sang puteri.

Seperti halnya para pria itu Vladimirpun memuja dan mencintai Zinaida. Lambat laun Zianida mengetahui gelagat Vladimir yang diam-diam mencintainya. Walau Zianida sadar bahwa dirinya lebih tua dari Vladimir namun Zianida mennyambut cinta Vladimir dengan memberi peluang-peluang pada Vladimir untuk berada di dekatnya hingga akhirnya ia mengangkat Vladimir sebagai pengawal pribadinya.

Namun cinta Vladimir tak semulus harapannya, kedekatannya dengan pujaan hatinya selaku pengawal pribadinya malah membawanya pada kenyataan bahwa cinta pertamanya itu harus berujung pada kenyataan pahit yang membuat dirinya serasa tersambar petir di siang bolong!, kenyataan yang sama sekali tak pernah terpikirkan sedikitpun

Bagi saya pribadi, novel roman klasik ini tak terlalu istimewa, kisahnya datar-datar saja, walau ada kejadian mengagetkan bagi tokoh utamanya namun sepertinya penulis tak melanjutkannya dengan menguras habis konflik batin apa yang dihadapi Vladimir ketika harus berhadapan dengan kenyataan yang menyakitkannya. Padahal di awal-awal kisah penulis mahir menggambarkan bagaimana bingung dan salah tingkahnya Vladimir muda menghadapi kegalauannya karena mencintai Zianida.

Komentar yang berada di cover belakang novel ini yang mengatakan bahwa Cinta Pertama adalah novel yang indah, kisah cinta yang dilukiskan dengan sangat peka dan mengharukan, sekali sama sekali tidak saya rasakan saat saya membaca novel ini. Apakah ini karena terjemahannya sehingga keindahan dan keharuannya tidak saya rasakan? Karena saya belum membaca novel dalam bahasa aslinya atau dalam bahasa Inggrisnya maka saya tidak bisa menilai bahwa terjemahannya kurang tepat.

Dua orang kawan yang sudah membaca buku ini mengatakan terjemahannya kaku, bagi saya sendiri saya masih bisa menikmati terjemahannya hanya saja ada beberapa frasa kata yang sepertinya sudah jarang dipakai sehingga agak janggal membacanya, saya menduga karena novel yang dicetak tahun 2009 (cetakan IV) ini sang editor tidak melakukan penyesuaian terhadap terjemahan Rusman Sutiasumarga yang menerjemahkan buku ini di tahun 1972 dari bahasa Belanda.

Terlepas dari tak bisanya saya rasakan keindahan dan keharuan dari novel ini seperti yang ditulis di cover belakang novel ini saya rasa karya ini tetap bermanfaat untuk memberikan sebuah gambaran bagaimana potret kehidupan sosial masyarakat Rusia di abad ke 19 dan bagaimana ungkapan perasaan cinta itu ternyata tak berubah walau abad sudah berganti dan masyarakat sudah sedemikian modernnya. Apapun namanya ungkapan verbal saat seseorang dalam keadaan galau karena cinta di abad 19 ternyata masih sama seperti di abad ini.

Tentang Penulis & Sejarah Penerbitan

Ivan Turganev (1818-1883) adalah salah satu sastrawan Rusia terkenal. Jika berpijak pada periodisasi kesusasteraan Rusia, Ivan Turgenev adalah salah satu tokoh pertama yang muncul dari aliran Realisme Sosialis (1840-an). Para akademisi sastra Rusia berpendapat Ivan Turgenev adalah novelis dan dramawan yang dapat dengan baik memahami dan menulis kondisi masyarakat Rusia saat itu.

Karyanya yang dianggap penting adalah Zapiski Okhotnika (Corat-coret Seorang Olahragawan-1852), Rudin (1856) serta Otzy i Deti (Ayah dan Anak-anaknya, 1862). Novel Ayah dan Anak-anaknya dianggap sebagai karya yang menjadi standar karya fiksi abad ke-19. Selain itu, Turgenev juga gemar mengolah tema-tema percintaan seperti Asya (1858), dan Pervaia Liubov (Cinta Pertama ,1860).

Novel Pervaia Liubov (Cinta Pertama) terbit pertama kali pada tahun 1860 sedangkan edisi bahasa Inggrisnya baru terbit pada tahun 1897. Edisi Bahasa Indonesianya yg terbit pada tahun 1972 diterjemahkan oleh Rusman Sutiasumarga dari edisi bahasa Belandanya. Selain itu Ruman S juga menerjemahkan novel ini ke dalam bahasa Sunda dan dimuat sebagai cerita bersambung dalam Majalan Sunda tahun 1965 dengan judul Baleg Tampele.

Hingga kini novel Pervaia Liubov (Cinta Pertama) masih dibaca dan dipelajari sebagai bahan kajian sastra Rusia di sekolah-sekolah dan Perguruan Tinggi di Rusia.

Hernadi Tanzil
Blogger Buku Indonesia

Sumber: http://bukuygkubaca.blogspot.com/2011/10/cinta-pertama-ivan-turgenev.html




“Cinta pertama biasanya sulit dilupakan”

Kalimat lawas yang kebenarannya awet sampai sekarang, saya mengiyakan karena juga mengalaminya sendiri. Cinta pertama memang paling sulit dilupakan, entah karena itu bernama cinta atau karena momen pertama kalinya, yah, bisa dibilang dua-duanya benar.

Saya bukan penggemar berat cerita romantis, apalagi untuk suatu bacaan (novel), menurut saya cerita roman itu terlalu menguras emosi, hehee..that’s why I better took another genre ◔_◔

Jadi, karena bulan ini BBI mengambil tema romance untuk proyek baca bareng.nya, saya memilih ikut meramaikan proyek tersebut dengan membaca Cinta Pertama karya Ivan Turgenev, sengaja milih yang tipis, hehee..

Tokoh utama di novel ini bernama Vladimir Petrovitsy, seorang laki-laki yang berkebangsaan Rusia. Cerita ini sendiri bermula ketika selepas acara pertemuan yang diadakan oleh salah satu kolega Vladimir, si tuan rumah meminta para tamu yang saat itu masih tinggal untuk menceritakan pengalaman cinta pertama mereka, Vladimir kebetulan yang mendapat giliran pertama bercerita.

Kisah cinta pertama Vladimir dimulai ketika dirinya masih berusia 16 tahun. Sebelum kehadiran tetangga barunya, keluarga Zasekina, kehidupannya sebagai anak muda terbilang biasa-biasa saja. Tetangga barunya ini memiliki seorang puteri bernama Zinaida. Sebenarnya keluarga Zasekina adalah keluarga yang kaya raya, diceritakan juga mereka adalah keturunan bangsawan tapi setelah kematian sang Suami, kehidupan Ibu dan Anak ini, menjadi melarat, hingga akhirnya mereka terpaksa pindah ke rumah yang lebih sederhana.

Zinaida adalah seorang gadis muda sekaligus seorang Putri yang cantik, usianya sekitar dua-puluhan, sehari-harinya dia gemar mengadakan pertemuan atau bisa dibilang pesta di rumahnya yang sederhana. Para tamu undangan yang hadir semuanya adalah para lelaki dari berbagai golongan, mereka adalah: Pangeran Malyevsky, Dokter Loesyin, penyair Madanov, mantan Kapten bernama Nirmatsky, dan seorang prajurit berkuda yang bernama Byelozorov, mereka semua menaruh hati pada Sang Putri, Zinaida. Tak terkecuali Vladimir yang berusia paling muda diantara para pemuja itu. Semenjak perkenalannya dengan Zinaida, Vladimir dapat dipastikan selalu hadir disetiap pertemuan yang diadakan Sang Puteri. Tidak sekalipun dia rela kehilangan momen bertemu dengan Zinaida.

Sosok Zinaida sendiri, tidak begitu menarik perhatian saya, selain dia adalah seorang puteri yang menyebalkan karena tidak memiliki pendirian dan tujuan yang jelas, sikap Zinaida yang semaunya, egois dan manja, semakin memperburuk citranya sebagai seorang putri.

Cerita ini mengajak pembaca untuk benar-benar merasakan emosi dan pergulatan batin yang dialami Vladimir. Bagaimana dia, sebagai seorang anak muda berada diantara para lelaki yang lebih tua darinya berusaha memperebutkan perhatian Sang Puteri, bagaimana ketika Zinaida menyeret perasaannya kesana-kemari tanpa kejelasan, sampai suatu ketika Vladimir harus mengalami sakit hati karena Zinaida justru mencintai orang lain, di penghujung cerita Vladimir masih harus mengalami kekecewaan karena disaat terakhir kehidupan Zinaida dirinya kehilangan kesempatan untuk bertemu dengan pujaan hatinya.

Buat saya novel ini benar-benar menguras habis emosi, selain karakter yang dimiliki tokohnya, gaya bahasa yang dipakai cukup memusingkan, entah karena terjemahan yang kurang sesuai atau bahasa aslinya yang memang susah dipahami, buat saya masalah bahasa ini, memakan porsi yang lebih besar.

Dibagian belakang buku ini dituliskan kalau kisah cinta di novel ini sangat peka dan mengharukan – well, mungkin tadinya bisa mengharukan kalau saja saya tidak keburu emosi dengan gaya bahasa yang dipakai, yah..meskipun ending ceritanya cukup mudah ditebak.

Cover-nya menarik, saya suka, benar-benar menggambarkan isi cerita juga karakter tokoh di dalamnya. Overall, I give 3 of 5 stars for this book.

Tentang Penulis:

Ivan Turgenev adalah pengarang Rusia pertama yang memberi gambaran gamblang tentang keadaan di Rusia pada abad ke-19. Karyanya lebih mudah dipahami daripada Tolstoy dan Dostoyevsky. Penulis prosa ini dilahirkan pada tanggal 28 Oktober 1818 di Oryol, Rusia, sebagai anak seorang tuang tanah. Cara-cara ibunya yang berlaku bengis kepada pembantunya, membuat Turgenev muda bersumpah akan menentang perbudakan. Ia menempuh pendidikan di Universitas Petersburg, kemudian di Berlin (1838-1844), tempat ia menetap seterusnya. Turgenev meninggal pada tahun 1883 di Bougival dekat Paris.

Pada mulanya ia menulis sajak (1834). Namun barulah ia menjadi terkenal setelah menulis novelet Chorij dan Kalinstj di tahun 1847 yang melukiskan dua tipe petani dengan segala kebebasan individunya. A Sportsman’s Sketches (1852), merupakan dakwaan atas perbudakan. Kemudian terbit buku-buku romannya yang lain, berjudul Rudin (1855), A Nest of Gentlefolk (1858), On the Eve (1860), Fathers and Sons (1861) yang pernah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Noer St. Iskandar dengan judul Peredaran Zaman, melukiskan pertentangan antara dua generasi.

Winda Scorfi
Blogger Buku Indonesia

Sumber: http://roempi.wordpress.com/2011/10/31/review-cinta-pertama/

Kirim Artikel Ini Ke E-mail Anda !! isi ya :)

Name:

Alamat:

Email:


 
WELCOME TO ADI PUTRA WIBOWO SITE CORPORATION OF 2012

HTML text code